Mulai Senin Harga Gula Rp 12. 500/Kg, Minyak Goreng Rp 11. 000/Liter

Mulai Senin Harga Gula Rp 12. 500/Kg, Minyak Goreng Rp 11. 000/Liter

Pemerintah mengambil keputusan harga eceran paling tinggi (HET) gula pasir, minyak goreng dalam paket simpel, serta daging beku. Kebijakan ini mulai berlaku Senin 10 April sampai 10 September 2017 di semua Indonesia.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Entrepreneur Ritel Indonesia (Aprindo), Tutum Rahanta, menyampaikan mulai Senin kelak beberapa pedagang jual gula pasir dengan harga optimal Rp 12. 500. Harga minyak goreng 1 liter paket simpel ukuran 1 liter optimal Rp 11. 000.

Lalu, untuk peritel yang jual daging, harus sediakan juga daging beku kerbau impor India dengan harga jual optimal Rp 80. 000/kg.

” Kita ulas dengan beberapa supplier serta distributor, serta kajian masih tetap jalan, ” tutur Tutum pada detikFinance, Kamis malam (6/4/2017).

Menurut Tutum kajian itu meliputi tehnis proses kebijakan tersebut di lapangan. Umpamanya, langkah pembayaran, distribusi, pengemasan product, sampai distribusi ke gudang-gudang pedagang pengecer.

Ia memberikan, pelaku usaha terutama toko ritel modern mematuhi kebijakan harga eceran paling tinggi itu. Tetapi, mereka mengharapkan pemerintah menanggung kelancaran supply barang.

” Kami harus juga ditanggung supply dari industri serta distributor serta sebarannya mesti luas meliputi beberapa toko kita yang ada, ” tegas Tutum.

Kementerian Perdagangan lewat Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri sudah menebarluaskan info HET itu ke beberapa pelaku usaha ritel. Mereka yaitu Bulog, Aprindo, Asosiasi Distributor Daging Indonesia (ADDI), entrepreneur toko ritel modern, distributor gula pasir, distributor daging, dan asosiasi serta produsen minyak goreng.

Terlebih dulu, Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita, menyampaikan bakal mengatur harga gula, minyak goreng, serta daging beku, satu diantaranya yang di jual di toko ritel modern. Menurut Enggar, toko ritel butuh ditata karna sampai kini jadi price leader dengan kata lain penentu harga.

” Toko ritel modern mereka price leader. Price leader ini yang kita kontrol. Mereka tidak bisa jual harga diatas harga yang diputuskan. Seperti gula dsb, ” kata Enggar di kantor Kemendag, Jakarta, Senin (3/4/2017).