SEJARAH PADANG

SEJARAH PADANG

 

Kode Pos

Sejarah

Padang, 1859
Padang telah menjadi pusat perdagangan sejak abad ke-16, yang telah dikuasai oleh Kerajaan Pagaruyung dan Kesultanan Aceh. [3] Selama abad 16 dan 17, merica dibudidayakan dan diperdagangkan bersama India, Portugal, Inggris dan Belanda. Pada tahun 1663 kota ini berada di bawah kekuasaan Belanda dan sebuah pos perdagangan dibangun pada tahun 1680. Kota ini berada di bawah Kerajaan Inggris dua kali, pertama dari tahun 1781 sampai 1784 selama Perang Anglo-Belanda Keempat, dan sekali lagi dari tahun 1795 sampai 1819 selama Perang Napoleon. Pada tahun 1819 kota tersebut dipindahkan kembali ke Belanda. Sampai sekitar tahun 1780 produk perdagangan terpenting adalah emas yang berasal dari tambang emas di wilayah ini. Saat tambang sudah habis, fokusnya beralih ke produk lain seperti kopi, garam dan tekstil.

Pada tahun 1797 Padang dibanjiri oleh tsunami dengan perkiraan kedalaman arus 5-10 meter, setelah gempa, diperkirakan 8,5-8,7 Mw, yang terjadi di lepas pantai. Gemetar menyebabkan kerusakan yang cukup besar dan kematian dua orang, sementara tsunami mengakibatkan beberapa rumah hanyut dan beberapa kematian di desa Air Manis. Perahu yang tertambat di sungai Arau berakhir di lahan kering, termasuk kapal berlayar 200 ton yang diendapkan sekitar 1 kilometer ke hulu. Pada tahun 1833 tsunami lain membanjiri Padang dengan perkiraan kedalaman arus 3-4 meter akibat gempa, diperkirakan 8,6-8,9 Mw, yang terjadi di Bengkulu. Gemetar menyebabkan kerusakan yang cukup besar di Padang, dan karena kapal-kapal tsunami yang tertambat di sungai Arau memecahkan jangkar mereka dan berserakan.

Penduduk Padang pada tahun 1920 adalah 28,754, kota terbesar kedua di Sumatera di belakang Palembang. Pada saat kemerdekaan di tahun 1940-an kota ini memiliki sekitar 50.000 jiwa. Kopi masih penting, tapi kopra juga merupakan barang utama yang dihasilkan oleh petani di daerah pedalamannya. Pertumbuhan penduduk sejak saat itu sebagian disebabkan oleh pertumbuhan di wilayah kota, namun sebagian besar merupakan hasil migrasi ke kota-kota besar yang terlihat di begitu banyak negara berkembang. Dari tahun 1950 lapangan batubara Ombilin dikembangkan dengan Padang sebagai pelabuhan outletnya. Hal ini terlihat oleh beberapa pengamat yang mencerminkan kolonisasi ekonomi dan politik Indonesia.

Pada tanggal 30 September 2009, sebuah gempa berskala 7,9 melanda sekitar 50 kilometer di lepas pantai Padang. Ada lebih dari 1.100 korban jiwa, 313 di antaranya terjadi di Padang.

Kode Pos Kota